Temui Warga Bere-Bere, Johan Lewerissa Serap Berbagai Aspirasi
Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku, Johan Johanis Lewerissa, saat melakukan reses, di kawasan Bere-Bere, Kelurahan Batu Meja, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Kamis (3/9/2026) malam.
MERINDUDPRD.COM, AMBON - Wakil Ketua DPRD Provinsi Maluku, Johan Johanis Lewerissa menyerap sejumlah aspirasi, dan kebutuhan warga Bere-Bere, Kelurahan Batu Meja, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, dalam agenda reses masa sidang III tahun 2026, Kamis (3/9/2026) malam.
Johan mengatakan, aspirasi masyarakat yang disampaikan dalam reses tidak boleh hanya berhenti sebagai catatan, tetapi harus dilihat dan diperjuangkan sesuai kewenangan, aturan serta kemampuan anggaran daerah.
“Yang bisa kita lakukan, kita lakukan. Yang belum bisa, kita kerjakan perlahan-lahan. Saya tidak akan berjanji yang tidak pasti,” kata Johan.
Pernyataan itu disampaikan Johan setelah mendengar langsung sejumlah persoalan yang dihadapi warga RW 05, mulai dari RT 01 hingga RT 04.
Beragam kebutuhan disampaikan masyarakat, terutama berkaitan dengan dukungan terhadap organisasi sosial, fasilitas pemuda, hingga pembenahan infrastruktur lingkungan.
Salah satu yang menjadi perhatian Johan adalah, kondisi Yayasan Muhabet yang selama ini membantu masyarakat dalam pelayanan jenazah.
Salah seorang warga, Fin Hehanussa menyampaikan, keterbatasan dana menjadi kendala bagi organisasi tersebut dalam menjalankan aktivitas pelayanan.
Dengan iuran anggota yang hanya Rp10.000 setiap bulan, kebutuhan operasional sulit terpenuhi, terlebih ketika dalam satu bulan terdapat dua hingga tiga warga yang meninggal dunia. Yayasan juga membutuhkan kursi, untuk menunjang pelayanan kepada masyarakat.
Mendengar persoalan tersebut, Johan langsung menyatakan kesediaannya membantu. Ia memberikan bantuan dana sebesar Rp3 juta, sekaligus berkomitmen membantu memenuhi kebutuhan kursi bagi Yayasan Muhabet.
“Saya akan bantu Rp3 juta untuk Yayasan Muhabet. Untuk kebutuhan kursi juga akan kita bantu dalam waktu dekat,” ujarnya.
Tidak hanya organisasi sosial, kebutuhan generasi muda juga menjadi bagian dari aspirasi yang diterima Johan.
Angkatan Muda Ranting Anugerah yang menaungi dua sektor kepemudaan tengah berupaya membangun sekretariat, namun rencana tersebut terkendala keterbatasan biaya.
Johan meminta, agar pihak pemuda tidak hanya menyampaikan kebutuhan secara lisan, tetapi segera menyiapkan proposal pembangunan secara lengkap.
Proposal tersebut akan dipelajari, untuk melihat peluang dukungan melalui Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) DPRD maupun skema hibah pemerintah daerah.
“Segera siapkan proposalnya. Kita akan lihat mekanismenya dan bagaimana usulan itu bisa diperjuangkan sesuai ketentuan,” kata Johan.
Sementara itu, persoalan lingkungan yang dinilai cukup mendesak juga disampaikan warga.
Warga lainnya, Otis mengungkapkan, kondisi saluran air di sepanjang kawasan jurang kiri dan kanan, yang mengalami kerusakan di sejumlah titik.
Saluran yang berlubang dan ambruk dikhawatirkan berdampak terhadap kondisi jalan utama, yang menjadi akses penghubung kawasan Batu Meja menuju wilayah pegunungan.
Johan menyatakan, persoalan tersebut akan dikoordinasikan dengan instansi teknis Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku.
Peninjauan lapangan diperlukan, untuk memastikan kondisi sebenarnya, sekaligus mengetahui kebutuhan penanganan yang diperlukan.
“Kita akan koordinasikan dengan instansi teknis untuk turun melihat kondisi saluran itu. Setelah dilihat, baru bisa dihitung kebutuhan penanganannya,” jelasnya.
Usulan lain yang turut mendapat perhatian adalah pembangunan fasilitas pelayanan jenazah. Warga menilai fasilitas tersebut dibutuhkan, karena kondisi permukiman yang berada di kawasan tebing membuat proses evakuasi, atau pengangkutan jenazah menjadi tidak mudah.
Namun, Johan menegaskan, pembangunan fasilitas tersebut harus didahului dengan kejelasan status lahan. Pemerintah tidak boleh membangun fasilitas publik, di atas tanah yang status kepemilikannya belum jelas.
“Kita harus pastikan dulu tanahnya. Status dan kepemilikannya harus jelas, supaya ketika dibangun tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari,” tegasnya.
Dalam dialog tersebut, warga lain, Bernie juga meminta, agar perhatian terhadap persoalan warga tidak hanya muncul ketika anggota DPRD turun melakukan reses.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah kebutuhan yang harus ditangani, seperti longsor, kerusakan jalan, akses jalan setapak yang sempit dan berbahaya, serta kesulitan akses bagi warga lanjut usia.
Menanggapi hal itu, Johan mendorong masyarakat untuk melakukan pendataan kebutuhan secara menyeluruh.
Setiap persoalan, kata dia, sebaiknya disusun secara tertulis sehingga dapat menjadi dokumen pendukung dalam proses pengusulan program pembangunan.
Johan menjelaskan, realisasi sebuah usulan tidak dapat dilakukan secara instan. Setiap program membutuhkan proses mulai dari penyusunan usulan, perencanaan, penganggaran hingga pelaksanaan.
“Bisa saja usulan masuk dalam perencanaan tahun ini, tetapi pelaksanaannya baru tahun depan. Semua harus melalui tahapan, dan sesuai aturan supaya aman, serta dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.
Johan pun meminta warga Bere-Bere, untuk tetap menyampaikan dan mengawal kebutuhan mereka.
Ia memastikan, aspirasi yang telah diterima dalam reses akan menjadi bahan perjuangan sesuai skala prioritas dan kemampuan anggaran.
“Kita tidak bisa menjanjikan semuanya selesai sekaligus. Tetapi apa yang memang bisa kita perjuangkan, akan kita perjuangkan,” tandas Johan.
Berikan Komentar
